Sebulan penuh umat muslim telah menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan 1431 H. Rugi rasanya sebagai orang islam yang telah menjalankan berbagai ritual ibadah pada bulan yang sangat dimuliakan dibandingkan dengan 11 bulan yang lainnya tidak bisa mengambil hikmah dari segala aktivitas yang telah dilaksanakan selama ramadhan. Hikmah pertama yang bisa diambil adalah adanya rekonstruksi keikhlasan dalam menjalankan ibadah. Ramadhan telah mentarbiyah keikhlasan berpuasa yang merupakan hak dari Allah SWT. Bicara mengenai ikhlas yang tahu hanya diri sendiri dan Allah SWT. Puasa tanpa adanya landasan karena Allah (Lillahita’ala), akan terasa berat menjalankan. Puasa adalah ibadah yang sangat istimewa dibandingkan dengan ibadah lain yang ada di dalam rukun islam. Pada umumnya ibadah selain puasa dapat disaksikan oleh manusia lain misalnya syahadat harus ada ikrar yang diketahui oleh orang lain, sholat (apalagi berjama’ah) ada orang lain yang melihatnya, zakat ada serah terima antara muzaki dan amil (panitia) zakat sehingga terjadi transaksi, haji banyak orang yang mengantarnya. Sedangkan puasa, orang lain tidak bisa mengukur apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Manusia bisa saja dengan manipulasi berbagai penampilan menunjukkan dirinya berpuasa, padahal dirinya tidak menjalankan puasa. Yang tahu dari kita berpuasa hanyalah Allah SWT.
Hikmah kedua dari ibadah berpuasa adalah menjadikan diri kita menjadi orang yang sabar. Latihan kesabaran pada saat puasa dimulai setelah makan sahur hingga terdengar azdan maghrib. Contoh sederhana dari latihan kesabaran yaitu ketika dihadapkan hidangan makanan pada saat sebelum datangnya waktu berbuka. Meskpiun tersedia hidangan, orang berpuasa dengan kesabarannya akan menahan hingga waktu berbuka telah tiba dengan ditandai suara adzan maghrib. Selain itu juga, bagi orang yang sudah menikah diperintahkan untuk sabar untuk tidak melakukan hubungan suami istri pada saat sedang menjalankan puasa dan hanya boleh melakukannya pada malam hari. Hal tersebut sebagaiman tercantum dalam QS. Al Baqoroh : 187
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka……..”
Hikmah yang ketiga adalah munculnya sifat kedermawanan setelah menjalankan puasa. Orang yang berpuasa akan merasakan rasanya haus dan lapar, karena diperintahkan untuk tidak makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Rasa haus dan lapar tersebut merupakan cerminan dari sebagian umat yang tidak beruntung (fakir miskin), sehingga mereka harus menahan haus dan lapar tidak hanya di bulan ramadhan. Orang yang berpuasa dididik untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang miskin, sehingga memunculkan sifat kepekaan terhadap sesama manusia. Dari sinilah kemudian ibadah puasa juga melekat terhadap dimensi sosial, dimana setiap manusia diserukan untuk senantiasa berbuat kebajikan meskipun dalam kondisi yang lapang atau sempit.
“ (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”

September 23rd, 2010
Bagi keberlangsungan suatu Program Studi (Prodi), ketertelusuran (treasure) alumninya menjadi sangat penting. Saya mencoba untuk memberikan beberapa cara mungkin pernah atau akan dilakukan oleh suatu Prodi untuk melakukan treasure alumninya, melalui:
1. Pemberian surat/blanko yang harus diisi alumni ketika lulus dan dikirim kembali ketika sudah mendapatkan pekerjaan
Cara semacam ini memang pada awalnya semua alumni bisa mendapatkan formulir/surat/blangko. Akan tetapi apabila pengiriman baliknya menunggu alumninya sudah bekerja, maka resiko formulir/surat/blanko tersebut untuk tidak dikirim kembali ke pihak Prodi sangat besar. Hal ini disebabkan, sebagian alumni terkadang tidak memperdulikan dan sebagian lagi terkadang tidak terfikirkan untuk mengirim kembali dikarenakan formulir tersebut hilang ataupun lupa karena lama mendapatkan pekerjaan. Untuk alumni yang tidak memperoleh pekerjaan sesuai bidang ilmunya ketika kuliah, biasanya merasa minder dan malas untuk mengirim surat tersebut.
2. Menghubungi alumni langsung via telepon
Model seperti ini memang lebih singkat asalkan ada data nomor telepon alumni. Permasalahannya adalah, pada saat ini seseorang mudah untuk menggantikan nomor telepon/hp. Dan pada umumnya, mereka yang telah memiliki nomor baru enggan untuk memberitahukan kepada pengelola Prodi ataupun pihak yang terkait dengan treasure alumni, sehingga keberadaan alumni menjadi susah untyuk dilacak.
3. Alumni memberikan alamat email dan dimasukkan ke dalam daftar mailist alumni.
Pihak Prodi dapat meminta alamat email dari alumni pada saat kelulusannya. Alamat email tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam daftar mailing list (mailis) alumni. Cara seperti ini membutuhkan seseorang yang khusus menjadi moderator pada mailist tersebut dan semua alumni dipastikan telah terdaftar dn mengetahui alamat mailistnya. Melalui mailist ini harapannya ada tukar ide, informasi ataupun hal-hal lain dari setiap alumni. Mailist ini dapat efektif manakala alumni-alumninya dapat mengakses internet, namun apabila dalam mengakses internet agak kerepotan, maka model seperti ini juga menjadi tidak efektif.
4. Memberikan formulir elektronik yang bisa diisi langsung oleh alumni yang bersangkutan
Formulir elektronik ini dapat dibuat oleh pengelola Prodi dan ditempel pada website milik Prodi. Keberadaan website dan formulir sebisa mungkin diketahui oleh alumni.
5. Membuka situs jejaring pertemanan seperti facebook yang pada saat ini baru marak.
Situs pertemanan seperti facebook saat ini ternyata lebih mudah mempertemukan orang atau teman lama. Situs pertemanan itu sangat cepat untuk mencari posisi alaumni berada. Prodi dapat memanfaatkan situs pertemanan seperti facebook tersebut untuk megumpulkan data dan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang masing-masing alumni.
Mudah-mudahan bermanfaat.
August 27th, 2009

Nama : Thorikul Huda, S.Si., M.Sc.
Nama Istri : Dian Novita Kartika Dewi, S.P.T.
Nama Anak : Faeyza Muhammad Nabil
Alamat : Dusun Kembangan, Desa Candibinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta
Tempat lahir : Wonosobo
Tanggal Lahir: 30 juni 1979
Pekerjaan
1. Staf edukatif Program D III Kimia Analis FMIPA UII sejak tahun 2005
2. Kepala Laboartorium Instrumentasi Terpadu UII sejak tahun 2006
Riwayat Pendidikan :
1. TK Pertiwi Garung (Tahun 198
2. SDN 2 Garung (1986 – 1992)
3. SMPN 2 Wonosobo (1992 – 1995)
4. SMAN 2 Wonosobo (1995 – 1998)
5. S1 Ilmu Kimia FMIPA UII (1999 – 2003)
6. S2 Kimia FMIPA UGM (2007 - 2009)
Pengalaman organisasi
1. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO
2. Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK) FMIPA UII
3. Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) FMIPA UII
Publikasi dan penelitian
1. Huda T., Fatimah, I., 2005, Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kloroform Daun Teh (Camellia sinensis L) pada Minyak Kacang tanah, Prosiding Seminar Nasional FMIPA UNESA Surabaya
2. Huda T., Firdaus F., 2007, Karakterisasi Fisikokimia Film Plastik Biodegradabel dari Komposit Pati Singkong-Ubi Jalar, J. LOGIKA, Lembaga penelitian UII
3. Huda T., Firdaus F., 2007, Sintesis Film Plastik Biodegradabel dari Pati Ubi Jalar dan Karakteristik Fisikokimiawinya (Ipomea sp), J. EKSAKTA, FMIPA UII
4. Fatimah, I., Rubiyanto, D., Huda, T., Setyowati, I., 2007, Konversi Sitronelal dari Minyak Daun Sereh menjadi Isopulegol menggunakan Katalis Nanokomposit ZrO2-/HMTA-Montmorillonit, Prosiding seminar Nasional, Jurusan Pendidikan Kimia, FMIPA, UNY
5. Fatimah, I., Rubiyanto, D., Huda, T., 2007, Peranan Katalis TiO2/SiO2-Montmorillonit pada Reaksi Sitronelal menjadi isopulegol, J. Reaktor, Jurusan Teknik Kimia, UNDIP
6. Fatimah, I., Rubiyanto, D., Huda, T., Himmi K., Wiyantoko, B., Sugiarto, D., Ahda, M., 2009, TiO2/SiO2-Montmorillonit and ZrO2SiO2-Montmorillonit : Synthesis and Comparative Study on Its Cataliytic Activity for Citronelal Conversion, Proceeding International Seminar Science and Technology, FMIPA UII
7. Huda, T., Ismilayli, N., Santosa, S.J., 2009, Studi Adsorpsi Ion Au (III) dengan Menggunakan Asam Humat, Prosiding Seminar Nasional FMIPA UNY
8. Ismilayli, N., Santosa, S.J., Huda, T., 2009, Adsorpsi-Reduktif Isoterm AuCl4-Menggunakan Asam Humat Isolasi Tanah Gambut Rawa Pening Ambarawa, Prosiding Seminar Nasional FMIPA UNY
August 26th, 2009
By : Thorikul Huda
Plastik sintetik (non-biodegradable) sangat berpotensi menjadi material yang mengancam kelangsungan makhluk hidup di bumi ini. Untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya plastik, saat ini telah dikembangkan plastik biodegradable, artinya plastik ini dapat duraikan kembali mikroorganisme secara alami menjadi senyawa yang ramah lingkungan. Biasanya plastik konvensional berbahan dasar petroleum, gas alam, atau batu bara.
Secara umum plastik biodegradel dapat diproduksi dari raw material yang banyak mengandung selulosa, pati atau karbohidrat lain serta berbagai protein atau lipid yang terdapat pada hewan. Jenis plastik biodegradabel dapat mengalami penguraian yang lebih cepat dibandingkan dengan plastik non-biodegradabel, sehingga plastik biodegradabel tidak akan mengganggu keseimbangan alam. Keuntungan lain dari plastik biodegradabel ketika dibuang ke alama yakni akan lebih mempercepat kesuburan tanah yang diakibatkan terurainya plastik dengan membentuk unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah.
Pendapat lain tentang definisi plastik biodegradabel adalah suatu material dalam kondisi tertentu dan waktu tertentu dapat mengalami perubahan struktur kimiawinya akibat mikroorganisme seperti bakter, jamur dan algae. Selain itu juga plastik biodegradabel adalah suatu polimer yang berubah kedalam senyawa dengan berat molekul rendah, dimana paling sedikit satu tahap pada proses degradasinya melalui metabolisme organisme secara alamiah.
Di beberapa negara maju seperti Jerman, Amerika dan Jepang telah dikembangkan produksi jenis plastik biodegrdabel. Bahkan menurut Japan Biodegradable Platic Society produksinya akan mencapai 1/10 atau sekitar 1,2 juta ton dari total produksi palstik non biodegradabel. Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk dapat memproduksi plastik biodegradabel dengan potensi sumber daya alam yang dimilikinya.
Salah satu jenis biopolimer yang telah dikembangkan adalah selulosa asetat. Biopolimer dari jenis ini dapat dibuat dari raw material yang banyak mengandung senyawa kimia selulosa. Tongkol jagung merupakan raw material yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi biopolimer jenis selulosa asetat. Hal ini dikarenakan tongkol jagung banyak mengandung senyawa jenis selulosa. Komposisi tongkol jagung
No Komposisi Jumlah (%)
1. Selulosa 40
2. Hemiselulosa 36
3. Lignin 16
4. Lain-lain 8
Pemanfaatan tongkol jagung masih sangat terbatas. Kebanyakan limbah tongkol jagung hanya digunakan untuk bahan tambahan makanan ternak, atau hanya digunakan sebagai pengganti kayu bakar. Melihat komposisi selulosa dan hemi selulosa yang cukup besar seperti yang tertera pada tabel 1, maka tongkol jagung sangat potensial untuk dimanfaatkan menjadi bentuk biopolimer jenis selulosa asetat.
Biopolimer selulosa asetat dapat diaplikasikan sebagai pembungkus atau kemasan produk makanan. Untuk kurun waktu tertentu, produk makanan dalam kemasan dapat mengalami kerusakan akibat adanya mikroorganisme khususnya bakteri yang tumbuh di dalamnya. Pertumbuhan bakteri dalam kemasan produk makanan dapat dihambat apabila pembungkus atau kemasan juga mengandung bahan-bahan yang memiliki fungsi sebagai anti bakteri. Bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai antibakteri adalah kitosan. Untuk kitosan sendiri telah banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi diantaranya sebagai antimikrobia, anti inflamasi, dan antioksidan dengan memecah radikal superoksida (secara in vitro).
Selulosa asetat dan kitosan dapat dipadukan menjadi suatu biopolimer yang dapat dijadikan pembungkus atau kemasan produk makanan dengan kemampuan menghambat pertumbuhan mikroorganisme khususnya bakteri, sehingga makanan yang terdapat dalam kemasan akan lebih bertahan lebih lama.
August 23rd, 2009
By : Thorikul Huda
Pendahuluan
Sehubungan dengan pertambahan penduduk yang semakin meningkat, maka permintaan akan pangan, sandang dan papan juga semakin meningkat. Hal ini mendorong peningkatan kegiatan pembangunan di berbagai sektor yang mengakibatkan pemanfaatan ekosistim secara tidak rasional dan tidak terkendali. Kegiatan pembangunan tersebut mengakibatkan penurunan kualitas bahkan perusakan ekosistim itu sendiri serta berdampak lanjut terhadap gangguan ekosistim lain yang berada di sekitarnya, sehingga mengakibatkan gangguan kehidupan organisme yang hidup di dalamnya maupun terhadap organisme pemanfaatnya termasuk manusia.
Proses pencemaran perairan pada umumnya disebabkan oleh berbagai kegiatan yang merupakan sumber bahan pencemar perairan antara lain pemukiman, industri, transportasi, dan pertanian. Kegiatan-kegiatan tersebut potensil menghasilkan bahan pencemar yang merusak sistim kehidupan di dalam ekosistim pantai. Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, dengan demikian perairan yang sudah tidak lagi berfungsi secara normal dapat dikatergorikan sebagai perairan tercemar. Selain itu definisi dari pencemaran air disebabkan oleh masuknya zat-zat asing ke dalam lingkungan, sebagai akibat dari tindakan manusia, yang merubah sifat-sifat fisik, kimia, dan biologis lingkungannya. Bahan-bahan pencemar tersebut digolongkan ke dalam tiga tipe yaitu: (1) patogenik (menyebabkan penyakit pada manusia), (2) estetik (menyebabkan perubahan lingkungan yang tidak nyaman berdasarkan panca indera) dan (3) ekomorpik (bahan cemar yang menyebabkan perubahan sifat sifat fisika lingkungan).
Bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan perairan dapat berasal dari material organik maupun anorganik. Parameter pencemaran biasanya saling terkait antara satu parameter dengan parameter lainnya. Dalam pembahasan ini akan disampaikan hubungan antara parameter Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid) dengan kekeruhan (Turbidity), dan Kelarutan oksigen (Dissolved Oyigen)
Total Suspended Solid atau Total Padatan Tersuspensi
TSS (Total Suspended Solid) atau total padatan tersuspensi adalah padatan yang tersuspensi di dalam air berupa bahan-bahan organik dan inorganic yang dapat disaring dengan kertas millipore berporipori 0,45 μm. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produser.
Turbidity atau Kekeruhan
Turbiditas atau kekeruhan digunkan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan biasanya terdiri dari partikel organic maupun anorganik yang berasal dari DAS (Daerah Aliran Sungai) dan resuspensi sediment di dasar danau.
Dissolved Oxygen atau Kelarutan oksigen
Sumber oksigen dalam perairan dapat diperoleh dari hasil proses fotosintesis phytoplankton atau tumbuhan hijau dan proses difusi dari udara, serta hasil proses kimiawi dari reaksi-reaksi oksidasi. Keberadaan oksigen di perairan biasanya diukur dalam jumlah oksigen terlarut (dissolved oxygen) yaitu jumlah miligram gas oksigen yang terlarut dalam satu liter air.
Pada ekosistem perairan, keberadaan oksigen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain distribusi temperatur, keberadaan produser autotrop yang mampu melakukan fotosintesis, serta proses difusi oksigen dari udara. Di perairan umumnya oksigen memiliki distribusi yang tidak merata secara vertikal . Distribusi ini berkaitan dengan kelarutan oksigen yang dipengaruhi oleh temperatur perairan. Kelarutan oksigen bertambah seiring dengan penurunan temperatur perairan, walaupun hubungan ini tidak selamanya berjalan secara linier. Tabel 1. Hubungan antara temperatur dan kelarutan oksigen di perairan
Suhu Kelarutan oksigen (mg/L)
0 14.6
4 13.1
8 11.9
12 10.8
16 10.0
20 9.2
24 8.5
30 7.6
Sumber :Chanlett (1979)
Hubungan antara Total Suspended Solid dengan Turbidity dan Dissolved Oxigen
Kekeruhan erat sekali hubungannya dengan kadar zat tersuspensi karena kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi yang ada dalam air tersebut. Zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat, misalnya pasir halus, liat dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan anorganik atau dapat pula berupa bahan-bahan organik yang melayang-layang dalam air. Bahan-bahan organik yang merupakan zat tersuspensi terdiri dari berbagai jenis senyawa seperti selulosa, lemak, protein yang melayang-layang dalam air atau dapat juga berupa mikroorganisme seperti bakteri, algae, dan sebagainya. Bahan-bahan organik ini selain berasal dari sumber-sumber alamiah juga berasal dari buangan kegiatan manusia seperti kegiatan industri, pertanian, pertambangan atau kegiatan rumah tangga. Kekeruhan memang disebabkan karena adanya zat tersuspensi dalam air, namun karena zat-zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat yang bentuk dan berat jenisnya berbeda-beda maka kekeruhan tidak selalu sebanding dengan kadar zat tersuspensi.
Tontowi (2007) telah membuktikan bahwa peningkatan total padatan terlarut akan meningkatkan tingkat kekeruhan di Waduk Jati Luhur. Kenaikan kadar zat tersuspensi dari 11 mg/L menjadi 50,5 mg/L atau mengalami kenaikan sebesar 390 %, sedangkan kekeruhan mengalami kenaikan dari 6,6 NTU menjadi 27,6 NTU atau mengalami kenaikan sebesar 318 %
Dampak kekeruhan pada air minum terutama adalah dapat menimbulkan estetika yang kurang baik. Orang menilai air minum pertama dari kekeruhannya. Air yang keruh ditinjau dari estetikanya tidak layak untuk diminum. Selain dari segi estetika, air yang keruh yang mengandung zat-zat tersuspensi dapat menyebabkan mikroorganisme patogen hidup dan berkembang dengan baik, bahkan adanya bahan-bahan tersuspensi tersebut dapat menyebabkan mikroorganisme lebih tahan terhadap proses desinfeksi.
Adanya kekeruhan akan manghambat proses masuknya sinar matahari ke dalam perairan. Sehingga hal tersebut dapat mengakibatkan proses fotosintesis tanaman (fitoplankton) menjadi terhambat. Padahal seperti diketahui bersama, fotosintesis oleh tanaman akan menghasilkan gas O2 yang banyak dibutuhkan oleh organisme di lingkungan perairan.
Jika oksigen hanya sedikit dan maka bakteri aerobic akan cepat mati karena suplay oksigennya sedikit dan bakteri anaerobik mulai tumbuh. Bakteri anaerobik akan mendekompisisi dan menggunakan oksigen yang disimpan dalam moleku lmolekulyang sedang dihancurkan. Hasil dari kegiatan bakteri anaerobikdapat membentuk Hidrogen Sulfida (H2S), gas yang berbau busuk dan berbahaya, serta beberapa produk lainnya
Kesimpulan
Peningkatan konsentrasi padatan terlarut berkorelasi secara positif dengan nilai kekeruhan dan berkorelasi negative dengan kelarutan oksigen
DAFTAR PUSTAKA
Chanlett, E.T., 1979. “Environmental Protection”. Mc Graw-Hill Book Company. New York.585 p.
Sunarto, 2003, “Peranan Dekomposisi Dalam Proses Produksi Pada Ekosistem Laut” Pengantar Falsafah Sains (Pps702)Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor
August 23rd, 2009
By : Thorikul Huda
Seiring dengan pertumbuhan penduduk maka aktivitas manusia untuk menghasilkan sampah juga semakin meningkat. Sampah yang diproduksi oleh masyarakat berupa sampah organic maupun sampah anorganik. Data BPS pada tahun 2000 menunjukkan produksi sampah dari 380 kota di Indonesia sebesar 80.235,87 ton tiap harinya. Dari sampah yang dihasilkan tersebut 37,6 % atau sekitar 30.168,687 ton di tangani dengan cara di bakar.
Pembakaran sampah yang tidak menggunakan teknologi tinggi dapat berakibat pada pencemaran lingkungan. Sebab hal ini dapat menghasilkan senyawa kimia berbahaya dan beracun yang dikenal dengan nama dioksin. Senyawa ini dapat terbentuk pada pembakaran dengan temperature yang rendah. Bahkan menurut Sunardi (www.migas-indonesia) pembakaran dengan menggunakan incinerator pada temperatur 400 – 600 0 C merupakan kondisi yang optimum untuk pembentukan senyawa dioksin.
Apabila proses pembakaran sampah berlangsung sempurna maka tidak akan menghasilkan dioksin, seperti yang diperlihatkan pada persamaan reaksi (1)
CaHbOcNdSeClf + u (O2 + 3,76 N2) sCO2 + tHCl + xH2O + ySO2 + zN2 (1)
Pada reaksi persamaan reaksi pembakaran (1) diatas memperlihatkan tidak terbentuk senyawa dioksin apabila reaksi berlangsung secara sempurna (dalam reaksi yang stabil). Namun dengan beragamnya komposisi yang terdapat pada sampah, maka ketika sampah dibakar maka dapat menghasilkan dioksin dan furan. Hal ini terjadi karena proses pembakaran tidak dapat dapat berlangsung secara stabil. Adapun proses pembentukan dioksin dan furan dapat ditunjukkan pada persamaan reaksi (2) dibawah ini.
C + H2 + Cl2 + O2 + N2 –> CO2 + CO + HCl + N2 + O2 + PCDD + PCDF (2)
Dimana: PCDD adalah Polly Chlorinated Dibenzo-p-Dioxin
PCDF adalah Polly Chlorinated Dibenzo Furan
Adapun informasi yang mendasari pembentukan dioksin dari hasil pembakaran dapat ditunjukkan pada table 1 dibawah ini.
Tabel 1. Distribusi unsure pembentuk dioksin dan furan
Unsur Distribusi di dalam produk pembakaran
- C CO2, CO, dioksin dan furan
- H2 HCl, H2O, dioksin dan furan (kecuali senyawa oktaklorida)
- Cl2 HCl, dioksin dan furan
- O2 CO2, CO, O2, dioksin dan furan
Dioksin sebenarnya tidak hanya dihasilkan dari pembakaran sampah, akan tetapi juga dapat dihasilkan dari gas emisi kendaraan, kebakaran hutan, asap rokok atau kegiatan lainnya. Disamping itu proses pada pemutihan bubur kertas juga dapat menghasilkan dioksin sebagai impurity pada produksi senyawa klorinat organic. Pada industry bubur kertas dioksin ditemukan pada air limbah (efluen). Pada proses pemutihan bubur kertas menggunakan bahan pemutih yang mengandung klorin dimana kemudian senyawa klorin tersebut bereaksi dengan senyawa organic membentuk dioksin.
Karakteristik senyawa Dioksin
Senyawa dioksin sendiri adalah senyawa yang tersusun oleh atom karbon, hydrogen, oksigen dan klor Dioksin sebenarnya istilah yang digunakan untuk menyebutkan sekelompok zat-zat kimia berbahaya yang termasuk kelompok atau golongan senyawa CDD (Chlorinated Dibenzo-p-Dioxin), CDF (Chlorinated Dibenzo Furan) atau PCB (Polly Chlorinated Biphenyl).

Senyawa 2,3,7,8-TCDD murni telah disintesis sejak tahun 1967. Bentuk fisik dari senyawa murni ini adalah berbentuk serbuk kristal padat (seperti serbuk yang terdapat pada tablet), tidak larut di dalam air dan sedikit larut pada beberapa pelarut organic. (www.websorcerer.com).
Bahaya Keracunan Dioksin
Beberapa decade terakhir telah banyak dilakukan kajian dan riset tentang bahaya dioksin bagi mahluk hidup khususnya manusia. Adapun kasus-kasus yang terjadi sepanjang sejarah menyangkut efek bahaya dari senyawa dioksin misalnya kasus dari Monsanto plant di Nitro, West Virginia, tahun 1949. Akibat kecelakaan di pabrik herbisida 2,4,5-T itu, 250 pekerja terkena penyakit chloracne, penyakit kulit berupa gatal-gatal memerah. Baru tahun 1955, Karl Schultz (seorang dokter Jerman) mensinyalemen bahwa chloracne adalah akibat racun dioksin.
Yang paling terkenal adalah kasus meledaknya pabrik kimia Hoffman-LaRoche di Seveso, Italia, tahun 1976. Akibatnya, sejumlah besar TCDD terlepas sampai ke atmosfer. Di daerah sekitar pabrik, hewan-hewan mati, terjadi destruksi vegetasi, penduduk mengalami keracunan akut, kasus-kasus chloracne, abortus, dan kelainan kongenital. Bahkan penelitian yang dilakukan Bertozzi dkk. pada tahun 1993 menemukan adanya peningkatan kasus kanker.
Penggunaan herbisida Agent Orange dalam Perang Vietnam (1960 – 1970) ternyata juga menyemburkan dioksin. Agent Orange digunakan untuk merontokkan dedaunan agar hutan-hutan Vietnam tidak bisa digunakan untuk bersembunyi tentara Vietkong. Tahun 1983, kantor veteran Chicago mencatat ada 17 ribu lebih veteran yang mengklaim ganti rugi akibat dioksin sewaktu bertugas di Vietnam.
Terbakarnya kabel PVC di Beverly Hills Supper Club bahkan merenggut nyawa 161 orang. Kebakaran tahun 1977 itu menimbulkan asap putih. Menurut salah seorang pekerja di situ, asap pedas yang mengandung gas hidrogen klorida (HCl) itu bisa bereaksi dengan pewarna kuku. Bahkan hasil reaksi tersebut dapat memakan kuku. Ketika terhirup dan masuk ke dalam paru-paru bersama udara yang mengandung air, HCl akan berubah menjadi asam klorida yang korosif. Akibatnya, yang selamat pun mengalami luka parah pada saluran pernapasannya.
Biaya pemulihan daerah yang tercemar dioksin tidaklah sedikit. Kasus di Time Beach, Missouri, pada tahun 1971 bisa menjadi gambaran. Sebuah perusahaan herbisida sembarangan saja membuang sampah industri ke tempat pembuangan oli bekas. Lalu oli bekas tersebut terpakai untuk menyemprot lapangan pacuan kuda, jalanan, serta tempat-tempat berdebu. Selain gangguan berupa chloracne dan radang kandung kemih yang akut, penyemprotan itu juga menimbulkan kematian dan penyakit pada ternak. Daerah tersebut kemudian dibeli oleh EPA (Badan Perlindungan Lingkungan AS) dan biaya yang dikeluarkan untuk membersihkan dioksin mencapai AS $ 100 juta.
Dioksin bersifat ada terus menerus (persistent) dan terakumulasi secara biologi (bioaccumulated), dan tersebar didalam lingkungan dalam konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per trillion (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang kehidupan dan ada terus bertahun tahun, walaupun tidak ada penambahan lagi kedalam lingkungan. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya terhadap binatang dan manusia. (www1.bpkpenabur.or.id)
Jika dioksin berada diudara maka akan dapat terhirup oleh manusia dan masuk ke dalam sistem pernafasan. Risiko bagi manusia yang paling besar adalah jika dioksin diterima tetap, walaupun dalam satuan takaran kecil, dan selanjutnya mengendap dalam tubuh manusia. Dioksin menimbulkan kanker, bertindak sebagai pengacau hormon, diteruskan dari ibu ke bayi selama menyusui dan mempengaruhi sistem reproduksi. Selain mengakibatkan penyakit tersebut, dioksin dengan demikian juga mempengaruhi kemampuan belajar oleh anak yang sangat peka terhadap pencemaran udara. (Sinaga, 2006)
Dioksin dalam jumlah kecil juga terdapat dalam asap rokok. Belum banyak pula yang menyadari bahwa insinerator atau pembakaran sampah di rumah-rumah sakit merupakan penghasil dioksin yang sangat berbahaya. Dioksin mempunyai struktur kimia yang sangat stabil dan bersifat lipofilik, yaitu tidak mudah larut dalam air tetapi mudah larut di dalam lemak. Karena kestabilan strukturnya ini, maka dioksin sangat berbahaya, sebab tidak mudah rusak atau terurai. Dioksin dapat berada di dalam tanah dan terakumulasi sampai 10-12 tahun. Dioksin bersifat mudah larut dalam lemak sehingga dapat terakumulasi dalam pangan yang relatif tinggi kadar lemaknya.
Mekanisme transport dioksin dalam sel
Dioksin dikenal sebagai penyebab kanker. Berinteraksi secara langsung dengan DNA melalui mekanisme berbasis reseptor. Proses interaksi melalui mekanisme berbasis resptor dapat dijelaskan sebagai berikut, setelah masuk ke dalam tubuh melalui selaput sel, dioksin bersatu dengan protein dasar reseptor. Maka dioksin pun diizinkan masuk ke dalam inti sel. Di sini ia berinteraksi dengan DNA dan menyerang gen yang mengontrol banyak reaksi biokimia seperti sintesa dan metabolisme hormon, enzim, maupun faktor pertumbuhan, sehingga bisa menimbulkan dampak dari kelainan janin sampai kanker. Gambar dibawah ini menunjukkan bagaimana dioksin masuk ke dalam sel dan akan menyerang DNA yang selanjutnya mempengaruhi reaksi metabolisme dalam sel.
Pencegahan Peningkatan Dioksin
Untuk dapat menahan laju pertumbuhan senyawa dioksin di udara, khususnya dari pembakaran sampah di perkotaan, maka perlu dilakukan pengendalian sampah secara terpadu. Pertama harus memberikan kesadaran pada masyarakat untuk dapat memisahkan sampah-sampah organic yang mudah terdegradasi oleh mikroorganisme dengan sampah yang susah terdegradasi seperti plastic. Sampah-sampah plastic yang susah terdegradasi harus dikumpulkan dan jangan dibakar begitu saja karena berpotensi untuk menghasilkan dioksin.
Pemerintah daerah, dimana daerahnya memproduksi sampah dalam jumlah yang sangat besar maka harus menyediakan incinerator yang mampu melakukan pembakaran sampah berkisar antara 800 – 1100 0C, sebab dengan incinerator yang mampu membakar sampah hingga temperature 1000 0C tidak akan menghasilkan dioksin. Terjadinya dioksin dalam pembakaran sampah, dapat dikendalikan dengan penguraian suhu tinggi dioksin atau prehormon melalui pembakaran sempurna yang stabil. Untuk itu, penting untuk mempertahankan suhu tinggi gas pembakaran dalam tungku pembakaran, menjaga waktu keberadaan yang cukup bagi gas pembakaran, serta pengadukan campuran antara gas yang belum terbakar dan udara dalam gas pembakaran. Kemudian terhadap pencegahan pembentukan senyawa de novo yang juga merupakan penyebab munculnya dioksin, pendinginan mendadak serta pengkondisian suhu rendah gas pembakaran akan efekti (Anonim, 2005) . Selain itu, terhadap debu terbang yang dikumpulkan dengan penghisap debu yang banyak mengandung dioksin, ada teknologi pemrosesan reduksi khlorinat dengan panas. Untuk udara atmosfir yang dikembalikan, karena menggunakan reaksi reduksi khlorinat dengan menukar khlor yang terkandung dalam dioksin dengan hidrogen, dengan terus memanaskan debu terbang pada suhu diatas 8000C dioksin dalam debu dari jumlah totalnya akan terurai. Ini digunakan sebagai teknologi yang dapat menguraikan dioksin dengan energi input lebih sedikit dibandingkan dengan peleburan.
DAFTAR PUSTAKA
- Anonym, 2005, “Teknologi Pengolahan Sampah Jepang”, Bahan Seminar Teknologi Lingkungan, Kawasaki Juko Co. Ltd.
- Pirajan, J.C.M., Ubaque, C.A.G., Fajardo, R., Giraldo, R., Sapag, K., 2007, “Evaluation of Dioxin and Furan Formation Thermodynamics in Combustion Proscesses of urban Solid Wate”s, Ecletice Quimica, Volume 32. Numero 1, Sao Paulo, Brasil
- Sinaga, E., 2006, “Bahaya Zat Racun Dioksin dari Pembakaran Sampah”, www.republika.or.id
- Sumaiku, Y., 2007, “Apa Akibat dari Pembakaran Sampah du Pekarangan Rumah Tangga dan Pembakaran/Kebakaran Hutan terhadap Kesehatan”, www1.bpkpenabur.or.id
- Sunardi, 2007, “Incinerator, Berkah atau Bencana ?”, www.migas-indonesia
- www.websorcerer.com
August 23rd, 2009
Perkembangan yang sangat menggembirakan terjadi di Program D III Kimia Analis (KA) FMIPA UII. Hal tersebut dikarenakan pada tahun akademik 2009-2010 Program D III KA telah berhasil memperoleh jumlah mahasiswa dengan kenaikan lebih dari 100 % dari tahun akademik 2008-2009. keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen dan tanggung jawab dari beberapa pihak yang tetap konsisten untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam upaya merekrut calon mahasiswa. Orang yang memiliki peran besar dalam keberhasilan tersebut diantaranya adalah Tatang Shabur J., M.Si yang pada saat ini menjabat sebagai Ketua Program D III KA dan Riyanto, M.si., Ph.D yang pada tahun ini didaulat sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru di FMIPA UII dan Program D III Kimia Analis.
Dilihat dari jumlah mahasiswa yang pada saat ini telah melakukan registrasi, tercatat lebih dari jumlah mahasiswa baru pada saat tahun pertama (2003). Dimana pada tahun 2003 mahasiswa baru Program D III KA berjumlah 23, sedangkan pada tahun 2009 ini maba yang telah membayar registrasi sudah mencapai 26 mahasiswa, padahal proses penerimaan maba untuk program D III KA masih berakhir hingga tanggal 20 Agustus 2009.
Namun dengan keberhasilan yang telah dicapai itu, harus dapat dijaga dan dikelola dengan baik dengan cara:
1. Optimalisasi pelayanan akademik bagi mahasiswa melalui integralisasi SIMAK (Sistem Informasi Manajemen Akademik)
2. Peningkatan status akreditasi Program Studi
3. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam hal ini dosen yang mengajar harus sesuai dengan bidang keahlian serta memenuhi ketentuan dan syarat yang terdapat di dalam Undang-Undang Guru dan Dosen
4. Mengintensifkan hubungan kerja sama dengan institusi luar seperti Departemen Industri ataupun perusahaan-perusahaan swasta.
5. Mengokohkan komitmen bersama pada setiap personel yang mengelola Program D III Kimia Analis.
Semoga kesuksesan yang diraih oleh D III KA pada saat ini dapat berlanjut hingga tahun-tahun mendatang.
August 19th, 2009
Pada saat menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2009 yang lalu, banyak pihak yang melakukan tebar pesona. Diantara mereka yang melakukan tebar pesona adalah calon presiden dan cawapresnya, tim sukses dari para calon ataupun pendukungnya. Cara melakukan tebar pesona juga bermacam-macam seperti pemberian bantuan berupa uang, sembako atau lain sebagainya yang diperuntukkan untuk masyarakat yang dianggap miskin. Ada juga yang melakukan dengan cara barkunjung ke tempat-tempat yang dimungkinkan dapat mendulang suara banyak seperti pasar dan pesantren dengan seolah-olah mereka memiliki kepedulian pada wong cilik. Di dalam melakukan tebar pesona tidak jarang mereka juga melibatkan orang-orang berpengaruh seperti Kiai, Ketua Organisasi kepemudaan ataupun pihak-pihak yang dianggap dapat berpengaruh dalam mendapatkan suara yang banyak. Tebar pesona itu sebenarnya tidak hanya pada saat pemilihan presiden dan wakil presiden, akan tetapi tebar pesona sering dipakai pada saat menjelang pergantian kepala daerah, pemilihan ketua organisasi maupun suksesi kepemimpinan yang lainnya. Di Dalam melakukan tebar pesona terkadang memberikan janji-janji seperti akan mensejahterakan kosntituen, harga-harga sembako semakin terjangkau, melanjutkan bantuan lansung tunai, mempercepat pemulihan ekonomi, lapangan kerja akan mudah diperoleh, situasi keamanan makin terjamin, menjadi negara yang disegani ditingkat regional mapun internasional dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua itu seperti mimpi-mimpi indah yang ketika bangun tidur ternyata hal tersebut tidak terjadi.
Disisi lain, Insya Allah pada tahun 2010 Universitas Islam Indonesia (UII) akan menyelenggarakan suksesi kepemimpinan, baik dari tingkat Universitas sampai dengan level Fakultas. Kepemimpinan yang ada di UII adalah sebuah amanah besar yang diberikan tidak hanya oleh civitas akademika UII, akan tetapi sebuah amanah besar yang diberikan oleh umat Islam di Indonesia. Oleh karena itu kepemimpinan di UII juga harus harus terjaga dari pihak-pihak yang hanya akan melakukan tebar pesona menjelang suksesi kepemimpinan. Mudah-mudahan UII kedepan bisa mendapatkan pemimpin-pemimpin yang benar-benar tulus di dalam mengemban amanah, diterima oleh semua kalangan, serta dapat melanjutkan karya-karya terbaik yang telah dilakukan oleh pendahulunya. Amin.
August 12th, 2009
Welcome to Staff UII Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
August 7th, 2009